Jumat, 30 Desember 2011

METODE PENGEMBANGAN KETRAMPILAN BERBAHASA


PELAKSANAAN PENGEMBANGAN KEMAMPUAN BERBAHASA

2.1 PRINSIP-PRINSIP PELAKSANAAN
            Pelaksanaan pengembangan kemampuan berbahasa pada anak usia dini harus mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya. Hal itu dapat dilakukan apabila guru memahuti prinsip-prinsip pengembangan kemampuan berbahasa. Prinsip-prinsip tersebut adalah:
1)      bahan latihan, percakapan, memiliki tema tentang anak-anak dan berada di lingkungan anak
2)      kegiatan belajar mengajar berorientasi pada kemampuan yang hendak dicapai dan masih berkaitan dengan tema yang ditentukan
3)      anak memiliki kebebasan untuk menyatakan pikiran dan perasaan serta ditekankan pada spontanitas
4)      guru menguasai metode/teknik pelaksanaan kegiatan
5)      komunikasi antara guru dan murid berjalan dengan baik dan akrab artinya tidak menjaga jarak dengan murid secara berlebih-lebihan
6)      guru memberikan teladan dan contoh yang baik dalam cara menggunakan bahasa
7)      bahan atau materi mengandung isi untuk mengembangkan intelektual, emosional, serta sesuai dengan taraf perkembangan anak dan lingkungannya
8)      tidak diperkenan mengajarkan huruf beserta bunyinya secara satu per satu dalam kata, melainkan mengenalkan huruf yang ada dalam kata
9)      guru tidak memberikan pelajaran membaca dan menulis seperti pelajaran di Sekolah Dasar (SD).
2.2 Metode yang Digunakan dalam Pelaksanaan Kegiatan Belajar  Mengajar
            Dalam pelaksanaan pengembangan ketrampilan berbahasa dapat menggunakan metode/teknik mengajar yang sesuai dengan tema dan kebutuhan mengajar. Metode-metode tersebut adalah:
1)      bercerita/ membaca cerita
2)      permainan bahasa
3)      sandiwara boneka
4)      bercakap-cakap
5)      tanya jawab
6)      bermain drama
7)      bermain peran
8)      mengucapkan syair
9)      menceritakan kembali
10)  wisata
Dalam menggunakan metode atau teknik tersebut, guru dapat memilih salah satu atau gabungan dari beberapa metode sesuai dengan kemampuan yang ingin dicapai, fasilitas, kegiatan belajar mengajar yang disajikan dan disesuaikan pula dengan bahan pengembangan dan kebutuhan minat, kemampuan anak serta lingkungannya.
Bercerita adalah kemampuan guru untuk mengkomunikasikan suatu cerita atau kisah dengan menggunakan bahasa sendiri yang menarik perhatian siswa. Guru dapat menggunakan alat peraga berupa gambar dan lainnya untuk menjelaskan kisah dan tokoh  yang ada dalam cerita.
Permainan bahasa adalah sebuah permainan yang digunakan guru untuk melatih kosa kata anak dengan cara bermain bisa berupa tebak-tebakan gambar dan lainnya. Permainan bahasa ini sangat penting untuk memperlancar dan memperbanyak kosa kata pada siswa.
Sandiwara boneka adalah sebuah drama atau sandiwara dengan menggunakan boneka sebagai tokoh yang diceritakan. Dengan sandiwara boneka, guru dapat mencerikan suatu kisah cerita yang unik dan dapat menarik perhatian siswa. Dengan sandiwara boneka tersebut, murid dapat berlatih kemampuan menceritakan kembali, berttanya jawab dan lain sebagainya.
Bercakap-cakap adalah suatu kegiatan komunikasi yang bersifat ringan dengan saling bertanya dan menjawab tentang hal yang ada di sekelilingnya, misalnya bercakap-cakap tetnga identitas diri, bertanya alamat rumah dan lainnya. Dengan adanya kegiatan bercakap-cakap ini, siswa dapat menjalin keakraban sesama teman dan mengetahui kepribadiannya.
Tanya jawab adalah sebuah kegiatan yang melibatkan dua orang. Satu menjadi penanya dan lainnya menjawab pertanyaan yang diajukan. Pertanyaan yang diajukan bersifat ringan tentang kehidupan di sekeliling anak atau bertanya tentang isi cerita yang sudah diceritakan.
Bermain drama adalah suatu kegiatan komunikasi yang menuntut siswa untuk dapat mengekspresikan dialog dan sifat tokoh sesuai dengan apa yang ada  dalam teks drama. Dengan adanya permaian drama ini, siswa dapat melatih diri untuk berekspresi dan melatih mental agar bisa menghibur orang lain melalui drama yang dimainkan.
Bermain  peran sama halnya dengan bermain drama. Yang membedakan hanya pada teks drama untuk bermain drama sedangkan bermain peran memerankan tokoh tanpa teks drama.
Mengucapkan syair adalah kegiatan untuk mengucapkan kembali syair atau lagu. Kegiatan ini pada umumnya sangat disukai oleh siswa. Mereka dapat bernyanyi dan bersuka ria bersama. Tapi, yang harus diperhatikan guru adalah kandungan nyanyian yang harus sesuai dengan usia anak.
Menceritakan kembali adalah suatu kemampuan siswa untuk menyatakan kembali sebuah cerita yang sudah diceritakan oleh guru sebelumnya. Kemampuan menceritakan kembali merupakan kemampuan berbahasa yang sangat penting, karena dengan menceritakan kembali, siswa dapat memahami dan mengingat alur cerita.
Wisata adalah kegiatan untuk melakukan kegiatan belajar dengan cara berjalan-jalan dan mempelajari apa yang dilihat ditempat tujuan atau tempat wisata. Berwisata untuk anak usia dini sangat penting dan dapat menjadikan sistem belajar yang menyenangkan. Dengan wisata, mereka dapat mengetahui bermacam-macam pengetahuan yang tidak ada dalam pembelajaran di dalam kelas. Misalnya beriwisata ke kebun binatang, mereka akan tahu macam-macam binatang, nama dan makanannya secara langsung dan mereka dapat mengingatnya karena mereka tahu dan melihat langsung bukan didapat dengan pengetahuan secara teori di dalam kelas.









BAB III
CONTOH DAN PELAKSAAN PENGEMBANGAN KETRAMPILAN BERBAHASA

3.1 CONTOH 1: BERBICARA DALAM BENTUK BERCAKAP-CAKAP
1)      Kemampuan yang diharapkan dapat berbicara dengan lancer dengan menggunakan kalimat yang sederhana
2)      Metode yang digunakan bercakap-cakap sesuai dengan tema yang ditentukan
3)      Alat peraga
4)      Langkah-langkah pelaksanaan
a)      Guru menyiapkan alat peraga yang diperlukan
b)      Guru membicarakan tentang alat peraga
c)      Guru merangsang percakapan dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan tema
d)     Guru memberikan kesempatan pada anak untuk menjawab dengan kalimat sederhana
e)      Apabila ada anak yang belum bisa mengucapkan kalimat dengan baik, guru hendaknya memperbaiki secara bijaksana dan memberikan motivasi pada anak yang bersifat pasif dalam kegiatan ini.

Berikut contoh percakapan 1
Judul “Identitas Diri”
Guru    : Siapa namamu?
Murid : Andi
Guru    : Coba dijawab dengan baik, nama saya Andi
Murid  : Nama saya Andi
Guru    : Berapa umurmu?
             (jawaban yang diharapkan, umur saya 4 tahun)
Guru    : Dimana rumahmu?
            (jawaban yang diharapkan, rumah saya di….)
Guru    : Apa makanan yang kamu sukai
            (jawaban yang diharapkan, makanan yang saya sukai….)
Guru    : Mengapa kamu menyukai makanan itu?
            (jawaban yang diharapkan, saya menyukai…. Karena…..)
Guru    : Apa warna yang kamu sukai?
            (jawaban yang diharapkan, warna yang saya sukai….)
Guru    : Siapa nama Ibumu?
            (jawaban yang diharapkan, nama ibu saya….)
Guru    : Siapa nama ayahmu?
            (jawaban yang diharapkan, nama ayah saya….)

Berikut contoh percakapan 2
Judul “liburan”
Guru    : Pada hari Minggu kemarin kamu pergi kemana?
Andi    : Saya ke kebun binatang, Bu.
Nayla   : Saya pergi ke taman bermain di…. Bersama ibu.
Guru    : Apa yang kamu lihat di kebun bintang, Didi?
Didi     : Saya melihat gajah, Harimau, jerapah…
Guru    : Apalagi?
Didi     : ular, monyet, dan banyak lagi, Bu
Guru    : Kamu nayla, bermain apa di taman?
Nayla   : Saya bermain ayunan sambil makan es krim warna coklat
Auha   : Saya kemarin juga bermain ayunan di belakang rumah
Guru       : oh ya, bagus. Tidak apa-apa. Bermain boleh dimana saja. Siapa yang Minggu kemarin ke rumah nenek?
Mirza   : Saya, Bu.
Guru    : Bersama siapa ke rumah nenek?
Mirza      : Saya bersama ibu dan ayah. Saya dapat hadiah dari nenek, boneka beruang
Guru    : oh ya. Apa warna beruangnya?
Mirza   : warnanya coklat, Bu.

3.2 CONTOH 2: MAMPU MENGEKSPRESIKAN DIRI
1)      Kemampuan yang diharapkan adalah mengekspresikan diri melalui dramatisasi
2)      Metode: dramatisasi terpimpin
3)      Alat peraga: buku cerita, pakaian, alat peraga yang diperlukan sesuai peran
4)      Langkah-langkah pelaksanaan:
a)      Guru menyiapkan alat peraga yang diperlukan
b)      Guru menyetakan atau memberi saran cerita yang akan didramatisasikan
c)      Guru membagi peran di antara anak-anak menurut pilihan mereka sendiri
d)     Guru membagikan alat peraga yang dibutuhkan kepada siswa
e)      Apabila anak lupa kalimat dalam dialog, guru dapat mengingatkannya
f)       Siswa memperagakan drama yang sudah ditentukan.
Contoh dramatisasi
Judul “Menengok Teman yang sakit”
Peran:
1)      Marta
2)      Rita
3)      Tutik
4)      Dokter
5)      Ibu Tutik
6)      Ibu Marta
Adegan 1
-          Seorang ibu berjalan mondar-mandir menunggu anak perempuannya pulang sekolah (ibu Tutik)
-          Seorang anak perempuan dating dari sekolah (Tutik)
-          Tutik                : Selamat siang Bu.
-          Bu Tutik          : Selamat siang, Tutik.
-          Tutik                : Bu, Marta sudah lama tidak masuk sekolah. Marta di  rawat di rumah sakit
-          Ibu Tutik         : Kasihan, Marta sakit apa?
-          Tutik                :  Sakit panas. Bu, nanti Tutik akan menengok Marta bersama teman-teman
-          Ibu Tutik         : Boleh, nanti ibu akan bawakan buah-buahan (Ibu Tutik mengambilkan tempat kemudian disusul Tutik)
Adegan II
-          Tutik sedang merapikan taplak meja
-          Dari luar terdengar ketukan pintu
-          “Selamat sore!”, kata Rita (suara dari luar)
-          “Selamat sore!”, kata Tutik (sambil menuju kea rah pintu)
-          Rita                 : mari kita berangkat ke rumah sakit
-          Tutik                : Ayo. Saya akan membawa buah-buahan untuk Marta
Adegan III. Suasana di rumah sakit
-          Dokter memeriksa Marta
-          Ibu Marta sedang menunggu di sebelah Marta
-          Tak lama kemudian datanglah Rita dan Tutik
-          Tutik dan Rita : “Selamat sore, Marta”
-          Marta               : “Selamat sore”
-          Tutik                :  Saya membawa oleh-oleh untukmu. Mudah-mudahan kamu cepat sembuh
-          Ibu Marta        : Terima kasih anak-anak. Doakan Marta cepat sembuh dan bisa masuk sekolah lagi.
Catatan.
1)      Pada waktu dramatisasi berlangsung, anak-anak yang tidak menjadi pemain, akan menjadi penonton
2)      Dramatisasi terpimpin biasanya hanya memerlukan waktu 15 menit
3)      Pengaturan waktu antara adegan satu dan adegan yang lain hendaknya seimbang
4)      Pelaksanaan dramatisasi dapat dilakukan dengan dramatisasi bebas dan dramatisasi terpimpin

3.3 CONTOH 3: MEMBUAT KALIMAT PENDEK
1)      Kemampuan yang diharapkan dicapai menjawab pertanyaan tentang cerita pendek (tiga kalimat) yang sudah diceritakan guru.
2)      Metode yang digunakan bercerita dnegan menggunakan gambar dan Tanya jawab
3)      Alat peraga: gambar-gambar berupa gambar seri yang berkaitan dengan judul cerita
4)      Langkah-langkah pelaksanaan
a)      Guru menyiapkan alat peraga yang diperlukan (gambar-gambar)
b)      Guru mengatur posisi tempat duduk anak sesuai dengan yang direncanakan
c)      Guru menarik perhatian anak agar mendengarkan cerita
d)     Guru bercerita dengan memperhatikan alat peraga satu persatu sesuai dengan bagian yang diceritakan
e)      Guru memberi pertanyaan tentang isi cerita pendek  tersebut satu persatu (bertahap) kepada anak secara bergantian, misalnya dengan pertanyaan “Sedang apakah kumbang dan lalat?”
f)       Anak menjawab pertanyaan guru satu persatu kalimat pertanyaan sampai dengan tiga pertanyaan
g)      Setiap pertanyaan merupaka satu kalimat
h)      Bagi anak yang sudah dapat menjawab pertanyaan, guru dianjurkan memberikan pujian dan bagi anak yang belum dapat menjabab dengan benar diberikan motivasi.
Catatan
1)      Pertanyaan yang diajukan kepada masing-masing anak sebanyak tiga pertanyaan yang setiap pertanyaan merupakan pertanyaan tunggal dan diharapkan langsung dijawab oleh anak
2)      Guru sebaiknya menyiapkan pertanyaan  yang akan diajukan kepada anak


Contoh cerita 1
Judul “Murid Durhaka”
Menurut cerita jaman dahulu ketika pada binatang dapat beribicara,  ada cerita menarik tentang kucing yang menjadi guru. Kucing adalah salah satu guru yang disegani oleh binatang lain.
Kepandaiannya dan kebijaksanaannya serta keadilannya, membuat banyak binatang lain menghormati kucing.
Makin hari semakin meluas berita tentang terkenalnya kucing sebagai guru yang bisa menjawab permintaan para murid-murid yang belajar padanya. Akhirnya sang kucing mendapat julukan sebagai guru besar.
Diantara sekian banyak murid harimau dan singa adalah salah seorang murid yang cerdas. Dia ingin belajar memanjat pohon dari sang guru besar itu. Mendengar permintaan muridnya itu, sang kucing menerangkan panjang lebar tentang cara memanjat pohon.
Kemudian ia mulai berpikir, karena kucing harus lebih pintar dari harimau maupun binatang yang lain, mulailah ia berniat tidak baik. Diam-diam kucing tidak mau menurunkan ilmu memanjat itu. Kucing ingin supaya ilmu itu menjadi miliknya sendiri. Ia tidak ingin ilmu yang dimiliki oleh binatang selain dirinya.
Kucing berusaha mengulur waktu dan berharap para binatang meminta pelajaran cara memanjat pohon itu melupakannya. Kucing tidak bosan-bosan mengajari cara bermain-main maupun menerkam yang indah dan lain sebagainya. Khususnya kepada harimau dan singa, kucing mengajari cara merenang di air yang arusnya deras.
Kucing berharap kedua muridnya yang cerdas itu tidak lagi menuntut ilmu memanjat pohon.
Hehehe…
“Kalian senang ya bisa berenang?” Kata kucing
“Benar guru…” jawab singa dan harimau
Pada suatu hari, harimau sudah tidak sabar ingin diberi ilmu memanjat pohon. Pagi-pagi sekali ia menemui kucing. Kucing pun masih  berusaha menunda lagi dengan menghiburnya.
“Akan kau gunakan sebagai apa ilmu itu?” tanya kucing
“ Ya, sebagai bekal.” jawab harimau
Dengan sedikit menutupi agar ia disangka binatang yang baik hati pada sesama binatang.
Kucing pun melanjutkan perkataannya. Dengan suara agak pelan dan berwibawa
“Ilmu itu tak cukup sebagai bekal saja.”
Harimau agak gelisah.
Rupanya sang guru besar itu sangat keberatan menurunkan ilmu itu kepadanya. Ia berusaha menambahkan uraian jawaban yang lebih baik lagi dan masuk akal.
“Ya, untuk dimanfaatkan” kejar harimau.
“Manfaat untuk apa?” tanya kucing
Ia berusaha mendebat agar dengan kesalahan jawabannya harimau, ia bisa menggagalkan menurunkan ilmu itu kepadanya tanpa sungkan-sungkan.
“Apa saja?” harimau menjawab singkat
Kucing menambahkan lagi “Manfaat itu ada dua, ada manfaat baik dan ada manfaat buruk. Kalau manfaat buruk, berarti tidak baik. Jika manfaat baik itu pasti terpuji. Lalu kau akan memilih jawaban yang mana?” lanjut sang kucing.
Harimau menggerutu dalam hati, pikirannya mulai tidak tenang. “Guru mau menurunkan ilmu itu apa tidak?” Tanya harimau
Kucing tersenyum…”Kalau aku tidak mau bagaimana?” kata sang kucing
“Jangan menyesal apabila saya bertindak kasar” kata harimau
“Apa? Kamu melawan guru?” tanya kucing
Ia sadar ia tidak mampu melawan harimau. “Kalau tidak takut kena bencana” gertak kucing.
“Tidak” kata harimau
“Saya tidak mau menurunkan ilmu itu kepadamu” kucing meninggalkan harimau.
Harimau terperanjat mendengar jawaban itu. Mendengar keputusan sang guru, harimau sangat marah bukan main.
“Betul dugaanku, guru punya niat tidak baik”
“Aku gurumu, aku tahu apa yang terbaik bagimu dan ku rasa kau memang tidak perlu memanjat pohon” kata kucing sambil berlari
“Akan ku kejar kemana pun guru berlari”
“Coba saja kalau bisa” tantang kucing sambil mempercepat larinya.
Harimau yang merasa dikibuli, menjadi semakin marah. Ia juga mempercepat langkahnya. Karena harimau memiliki tubuh yang lebih besar, dalam tempo singkat ia mampu mengejarnya.
Sial bagi sang kucing, karena badannya lebih kecil, sehingga langkah kucing sangat pendek. Berkali-kali ia nyaris diterkam harimau. Kucing mulai gentar menyikapi harimau yang kian beringas itu.
Untunglah nasib sang kucing lebih pintar dalam menggunakan ilmunya. Ia juga berpikir lebih baik sering menukik dengan belok tajam dari pada berpacu dengan harimau yang sering kebablasan jauh dalam mengejarnya. Kenyaannya kelihatan ia bergerak lebih gesit dari harimau, walau dengan langkah yang pendek itu.
Saat itu, kucing merasa aman, karena  di depannya ada pohon. Tapi, sangat sulit baginya untuk langsung mencapai pohon itu. Jika ia langsung menuju pohon itu, maka ia akan dilahap harimau mentah-mantah.
Ia tetap memakai cara lari dengan menukik-menukik, belok tajam sambil mengalihkan perhatian kebuasaan harimau.
Ternyata benar, harimau takjub dengan kelincahan sang kucing dan tidak menyadari bahwa ada pohon di depannya. Hal itu karena ia konsentrasi memburu dan membabi buta agar secepatnya bisa memaksa kucing belaka.
Adapun bagi harimau, ia tetap merasa untung dengan ada tambahan ilmu tentang cara berlari dengan cara belok, dan menukik tajam.
Kucing yang selama itu hanya menyiasati perhatian agar bisa mencapai pohon, ia menciptakan langkah yang semakin indah. Sementara sekali ada kesempatan, maka segera kucing melompat dengan gesitnya merayap di pohon yang ada di depannya.
Harimau memandangi dari jauh. Harimau sangat terpesona melihat kelincahan sang guru memanjat pohon itu. Langkah itu indah sekali. Langkah itu adalah langkah yang ia impikan.
Ia menyadari ilmu memanjat pohon itulah yang ingin ia miliki dari sang guru besar. Akan tetapi, sang guru kini sudah tidak percaya lagi kepadanya.
Pada mulanya, harimau khawatir jangan-jangan sang guru hanya menipu, bahwa ia mempunyai ilmu cara memanjat pohon. Kini ilmu itu ia saksikan di depan matanya sendiri.
Setelah harimau tahu, ia hanya tercengang. Ternyata gurunya tidak berdusta. Mungkin gurunya hanya menguji kata-kata itu. Langkah itu benar-benar langkah yang menakjubkan. Ia tergiur dan menyesal telah memaksa gurunya. Akan tetapi, bagaimana lagi. Kalau nasi telah menjadi bubur. Mustahil guru akan mengampuni kesalahannya tadi.
Sambil ia terpesona bercampur kagum. Pelan-pelan ia mulai marah pada dirinya sendiri. Akhirnya marah besar. Kini perasaan dendam harimau tidak bisa dibendung lagi. Sehingga ia bersumpah akan membunuh gurunya.
Apabila ia tidak bisa membunuh gurunya. Maka, kotorannya pun akan ia makan agar ia bisa mempunyai ilmu memanjat pohon seperti gurunya itu.
Mendengar sumpah harimau, kucing malah tidak berani turun dari pohon itu. Dari situ pula, kucing tidak dapat menjadi guru lagi. Dia harus berhati-hati sebab ia tahu betul sifat harimau dan perangainya.
Dengan hati-hati pula, akhirnya sang kucing dapat turun dari pohon itu. Ia meneruskan perjalanannya di tempat-tempat yang agak jauh dari harimau. Ia terus mencari tempat yang aman baginya. Akhirnya, sampai sekarang dapat dilihat jika kucing buang air besar, kotorannya selalu ditimbun atau ditutup dengan tanah agar tidak dapat dilihat oleh harimau.
Daftar pertanyaan:
1)      siapa yang menjadi guru besar?
2)      siapa yang menjadi murid yang paling cerdas?
3)      ilmu pa yang akan dipelajari harimau?
4)      apakah kucing mengajari harimau ilmu memanjat pohon?
5)      apa harimau marah?
6)      mengapa harimau marah?
7)      apakah harimau adalah murid yang durkaha?
8)      apakah kucing dapat menghindar dari kejaran harimau?
9)      dengan cara apa kucing menghindari kejaran harimau yang lebih cepat?
10)  apakah kucing bisa memanjat pohon?
11)  apa sumpah harimau melihat kucing pandai memanjat pohon?
12)   mengapa kucing menutup kotorannya setelah buang air besar?

Contoh Cerita 2
Judul “Semut yang Baik hati”
Di sebuah batang pohon, kumbang bertemu dengan seekor lalat.
“Hai lalat. Ayo kita bersama-sama membantu semut mencari makan” kata kumbang
“tidak mau. Aku juga mencari makan sendiri. Kebetulan di rumah wati, ada sisa makanan” jawab lalat
(sampai di sini guru memperhatikan gambar seekor kumbang dan lalat sedang hinggap di batang pohon).
Guru berkata: “Coba lihat anak-anak, gambar binatang apakah ini? Apa warna bulunya?”
Setelah itu guru melanjutkan ceritanya.
Anak-anak…
Kemudian kumbang berkata: “Ah, aku juga sedang repot, karena nanti sore aku akan menghisap madu kesukaanku pada bunga matahari. Biarkan saja, semut kan banyak temannya. Mengapa tidak meminta tolong pada temannya itu?” jawab lalat.
“Ayolah. Semut masih sakit kakinya, karena terjepit jendela di rumah Pak Somad. Kasihan. Semut bisa mati kelaparan”
“Kalau kau memang tidak mau menolong. Ya sudah.” Jawab kumbang.
(Sambil bercerita guru memperhatikan gambar, semut yang sedang terjepit kakinya)
Coba anak-anak. Bagaimana keadaan semut? Apakah makanan semut?
Kumbang kemudian terbang menuju sarang dimana semut berada. Setelah sampai, kumbang menghampiri semut yang sedang merintih kesakitan.
“Mana kakimu yang sakit? Biar aku obati?” kata kumbang
“Kau harus istirahat supaya lekas sembuh. Biar aku yang mencari makanan. Tunggulah sebentar. Kau di sini saja. Sekarang aku akan berangkat dulu” kata kumbang.
(sampai di sini guru memperhatikan gambar semut yang sedang kesakitan dan kumbang sedang mengobati kaki semut)
Guru memberi penjelasan. Lihatlah anak-anak, binatang pun bisa tolong menolong dengan temannya.
Setelah itu, kumbang sibuk mencari makanan untuk semut. Tak lama kemudian, lalat sedang mencari makanan di tempat sampah di belakang rumah wati. Setelah kenyang, maka lalat terbang menuju ke tempat penjual kue, untuk mencari makanan lagi. Walaupun perutnya sudah kenyang karena serakah.
(kemudian guru memperhatikan gambar sampah yang dihinggapi lalat)
Guru memberi penjelasan.
Nah. Lihatlah ada lalat mencari makan di tempat sampah.
Karena penjual kue itu orang bersih, maka kue tersebut diletakkan di lemari kaca dan ditutup dengan plastik. Maka lalat tidak bisa masuk. Karena lalat itu bandel, tetap saja beterbangan di sekitar lemari penjual kue.
Melihat lalat beterbangan, penjual kue kesal, maka diambillah pemukul lalat diusirnya sampai kena. Akhirnya lalat kesakitan dan terbang dengan lemahnya.
Di jalan, lalat bertemu dengan semut. Semut melihat lalat sedang kesakitan, maka ditolonglah lalat itu dengan rasa senang. Walaupun dulu lalat tidak mau menolongnya. Setelah sembuh, lalat berterima kasih kepada semut dan menyesali atas perbuatannya serta meminta maaf.
Lalat berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya lagi.
Akhirnya mereka berteman dan hidup saling tolong menolong.
(sampai di sini guru memperlihatkan gambar lalat yang sedang meminta maaf kepada semut). Dan seterusnya.

3.4 CONTOH 4: MENIRUKAN KEMBALI URUTAN KATA
1)         Kemampuan yang diharapkan diacapai menirukan kembali 4 urutan kata (latihan pendengaran)
2)         Metode yang digunakan adalah pemberian tugas
3)         Alat peraga disesuaikan dengan bahan
4)         Langkah-langkah pelaksanaan
a)      Guru menyiapkan alat peraga yang diperlukan
b)      Guru mengatur organisasi kelas atau posisi tempat duduk yang direncanakan, misalnya anak dalam lingkaran
c)      Guru membicarakan kegiatan yang akan dilaksanakan kepada anak tentang permainan bahasa
d)     Guru mulai membisikkan 4 urutan kata (misalnya:atap, jendela, pintu, lantai) kepada semua anak, kemudian urutan kata tersebut (atap, jendela, pintu, lantai) itu disampaikan kepada anak lain
e)      Anak yang terakhir mengucapkan urutan kata (atap, jendela, pintu, lantai) yang didengarnya dengan suara nyaring sehingga dapat diketahui apakah urutan kata tersebut cocok dengan apa yang diucapkan guru.
f)       Supaya bervariasi, kegiatan tersebut dilakukan mulai dari anak yang lain (berlawanan arah) dan sebagainya.
g)      Anak disuruh menirukan 4 urutan kata (atap, jendela, pintu, lantai) yang dibisikkan tadi secara berurutan dan bergantian
h)      Guru memberi pujian kepada anak yang dapat meniru kata tersebut dan yang belum, diberikan motivasi dan dorongan.

Contoh 4 urutan kata
1)         Atap, jendela, pintu, lantai
2)         Meja, kursi, rak, lemari
3)         Teras, ruang tamu, kamar tidur, kamar mandi
4)         Buku, pensil, rautan, penghapus
5)         Ibu, kakak, adik, ayah
6)         dsb

Catatan: s
edapat mungkin kegiatan tersebut dikaitkan dengan tema

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar